TNUK Bersama KLHK dan DPRD Pandeglang Lepas Belasan Bibit Penyu Hijau

banner 160x600
banner 468x60

BBC, Pandeglang – Dalam rangka memperingati Hari Badak international yang dilakukan di Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK),  perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia, dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pandeglang melepas  17 ekor anak Penyu Hijau di Pantai Pulau Cidaun, Desa Taman Jaya, Kabupaten Pandeglang. Pelepasan belasan penyu hijau ini bertujuan untuk menjaga populasi Penyu hijau yang berada disekitar Kawasan Taman Nasiona Ujung Kulon, Sabtu, 23/9/2017.

Menurut Kepala Balai Taman Nasional ujung Kulon, Mamat Rahmat, ketika ditemui di sela kegiatan tersebut mnjelaskan dilakukanya pelepasan 17 ekor anak penyu Hijau itu adalah untuk konserfasi penyu Hijau yang ada di Taman Nasional Ujung Kulon. Selain itu juga, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk tindakan nyata dalam melakukan konserfasi keberadaan Penyu hijau yang berada di Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).

“Kegiatan Ini artinya kita bukan hanya peduli dalam mengembangbiakan binatang yang berada di TNUK seperti Badak Jawa dan Banteng Saja. Namun kita juga peduli akan perkembangbiakan populasi Penyu hijau yang ada disekitar Kawasan Wisata TNUK Khususnya di Wlwilayah pulau Ranjeng dan pulau Cilamea,” kata Rahmat.

“Apalagi Taman Nasional Ujung Kulon inikan merupakan salah satu tempat habitat Penyu hijau, Penyu Blimbing, dan penyu Sisik, tetapi untuk saat ini yang masih terdapat adalah Penyu hijau yang berada di sekitar Pulau Ranjeng dan Pulau Cilamea,” jelas Rahmat.

Karenanya, lanjut Rahmat pada kesempatan tersebut untuk kedepan kegiatan pelepasan Penyu hijau ini, akan dijadikan tempat atraksi wisata tradisional yang berada di Pulau Ranjeng.

“Pengelolaanya akan dilakukan langsung oleh masyarakat yang berada di sekitar TNUK, khusunya di daerah Taman Jaya agar mereka dapat merasakan hasil dari berkembagnya tempat wisata yang berada disekitar daerahnya,” tegasnya.

Bahkan Rahmat mengaskan, Penyu tidak boleh terganggu oleh manusia dalam perkembang biakanya atau dalam peroses bertelur hingga peroses penetasan.

“Apabila pada saat bertelur dan akhirnya Penyu tersebut terganggu, maka biasanya penyu  akan kembali lagi dan tidak jadi bertelur dan akan mencari tempat bertelur ke tempat yang lain yang dirasa akan lebih aman dan nyaman,” katanya.

Rahmat menambahkan, biasanya waktu yang paling ideal untuk melihat Penyu ketika proses bertelur hingga menetaskan telurnya adalah pada bulan Juli hingga bulan Agustus, dan dalam kondisi cuaca gelap bukan dalam keadaan terang bulan.

“Makaya kita harus memperhatikan suhu udara, struktur pasir serta kelembabanya,” ujar Rahmat.

Untuk saat ini, Rahmat menuturkan predator yang masih sering terjadi adalah adanya pencurian telur Penyu yang dilakukan oleh manusia untuk kepentingan yang lain dan juga adanya predator hewan lain seperti, Biawak, Babi dan Semut merah yang biasanya memakan telur Penyu secara langsung.

“Dalam hal ini saya akan melibatkan masyarakat langsung, yang berada di sekitar Taman Nasional Ujung Kulon, khuausnya untuk masyarakat Taman Jaya,” kata rahmat. (1-2)

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Comments are closed.