Program GSI, Nina: Diharapkan Bisa Minimalisir AKB dan AKI ketika Persalinan

banner 160x600
banner 468x60

BBC, Pandeglang – Gerakan sayang ibu (GSI) pada dasarnya merupakan mobilisasi potensi sumber daya yang ada guna memperbaiki kualitas perempuan khususnya penurunan kematian ibu, dalam rangka pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

“GSI juga dilaksanakan komplementer dengan program safe motherhood, sekarang making pregnancy safer yang selama ini telah dijalankan oleh kementerian kesehatan,” ungkap Nina disela bimbingan teknis kader gerakan sayang ibu berintegrasi dengan program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) kab. Pandeglang dan Lebak, Rabu, 22/3/2017.

Nina menjelaskan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi gsi diantaranya adalah pendidikan, pengetahuan, sosial budaya, sosial, ekonomi, geografis dan lingkungan yang semuanya di luar aspek kesehatan.

“Maka penanggulangannyapun harus melibatkan seluruh sektor di luar kesehatan. Melihat dari beberapa faktor penyebab tersebut ada beberapa keberhasilan dari pelaksanaan GSI ini misalnya adanya komitmen yang tinggi dari kepala daerah dan jajarannya dengan terbentuknya kelompok kerja tetap ditingkat kabupaten dan satuan tugas ditingkat kecamatan maupun desa dan rumah sakit sebagai rujukan,” jelasnya.

Nina mengatakan, pembangunan kesehatan merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kemauan dan kemampuan hidup sehat sehingga dapat terwujud peningkatan derajat kesehatan yang setinggi tingginya.

“Salah satu tolok ukur derajat kesehatan adalah menurunnya angka kematian ibu (AK) dan angka kematian bayi (AKB). Sebagian besar peyebab kematian ibu disebabkan oleh karena pendarahan hipertens dalam kehamilan infeksi dan penyakit penyerta lainnya,” kata Nina.

Disamping itu, Nina menuturkan kematian ibu dilatarbelakangi oleh rendahnya tinggkat sosial ekonomi tingkat pendidikan, kedudukan dan peran perempuan, faktor sosial budaya serta transpotasi yang kesemuanya berpengaruh pada munculnya dua keadaan yang tidak menguntungkan yaitu: tiga terlambat, pertama, terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan dan terlambat mendapat pelayanan di fasilitas kesehatan), Kedua empat terlalu, yakni terlalu muda melahirkan, terlalu sering melahirkan dan terlalu tua melahirkan).

“Untuk menanggulangi permasalahan tersebut, maka, digunakan pendekatan persalinan sehat dengan 3 pesan kunci persalinan ditolong oleh tenaga sehatan, setiap komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir mendapat pelayanan yang adekuat, setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan tidak diinginkan (KTD) dan penanganan komplikasi keguguran, mengingat penyebab dan latar belakang kematian ibu yang sangat kompleks dan menyangkut bidang-bidang yang ditangani oleh banyak sektor baik di lingkungan pemerintah dan swasta, dan masyarakat maka upaya percepatan penurunan jumlah kematian ibu memerlukan penanganan yang menyeluruh terhadap masalah yang ada,” ujarnya.

Sehubungan dengan situasi tersebut, Nina mengatakan maka diperlukan tim kerja yang efektif sinergis dan sinambungan dari provinsi dan kabupaten/kota sampai tenaga kesehatan ditingkat desa maupun dengan lintas program dan lintas sektor serta organisasi terkait, sehingga peran provinsi dan kab/kota akan saling melengkapi dalam upaya menurunkan AKI.

“Sejak beberapa tahun lalu telah dilaksanakan beberapa intrvensi strategis berbasis masyarakat dalam upaya penurunan jumlah kematian ibu. Salah satunya program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi P4K dengan stiker faktor yang mempengaruhi AKB,” pungkasnya.

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Comments are closed.