Perda PUK Tak Rampung, Kota Serang Madani Hanya Mimpi

banner 160x600
banner 468x60

BBC, Serang – Kota Serang yang merupakan ibu Kota Provinsi Banten dan juga sebagai Kota Madani hingga kini masih belum terwujud dan seolah olah hilang harapan. Hal itu dikarenakan masih banyaknya tempat hiburan malam di Kota Serang.

“Seperti yang ada di pinggir-pinggir jalan, cafe, dan restoran sampai tempat-tempat penginapan dan Hotel – Hotel,” kata Ketua GPSM Kota Serang, Ali Abdulkarim Selasa 5/12/2017.

Menurutnya, impian masyarakat Kota Serang untuk mewujudkan Kota Serang madani belum juga tercapai, karena belum disahkanya Perda Kepariwisataan (PUK)

Apalagi Ali menegaskan terkesan perda tersebut di ulur-ulur, dan juga adanya kecurigaan tersendiri serta dengan lamanya munculnya perda PUK sehingga terkesan membiarkan penyakit masyarakat ini merajarela di Kota Serang sebagai Kota Madani.Dengan digantinya Ketua DPRD Kota Serang juga ikut mempengaruhi raperda PUK ini.

“Dulu yang menangani untuk munculnya Raperda PUK adalah Pak Subadri, dan dengan tidak adanya Pak Subadri di dewan. Saya khawatir Perda PUK tidak kunjung di buatkan,” ucapnya.

Pria yang akrab disapa Enting ini juga mendesak biro hukum Pemkot Serang agar segera memproses itu, dan sangat penting perda PUK ini untuk dasar hukum melarang adanya tempat hiburan di Kota Serang. “Sedang perda no 2 tahun 2010 mengenai penyakit masyarakat tidak berpengaruhi sama sekali, dan tidak memiliki dasar hukum yang jelas. Jangan semuanya hanya cuci tangan saja, dan tidak mengatasi penyakit masyarakat yang ada di Kota Serang,” tegasnya.

Apalagi, Enting menyebutkan di Kota Serang terdiri dari 24 tempat hiburan malam yang tidak memiliki izin.

“Dulu pada saat di Bentuk Kota Serang sebagai ibu kota Provinsi Banten, slogan apa yang di munculkan, dan akhirnya menjadi Kota Serang Madani bisa menjadi sebuah Kota yang agamis hingga munculnya Perda no 2 tahun 2010 yang tidak maksimal dengan kebanyakan harapan kosong,” tegasnya.

Padahal, kata Enting pengusaha-pengusaha tempat hiburan bukan orang serang, dan wanita-wanitanya pun dari import yang datang ke Kota Serang dengan berpura-pura kuliah supaya harganya menjadi naik serta mahal.

“Terus apa yang ditakuti oleh Pemerintah sendiri. Sedangkan sudah jelas, para pengusaha ini telah menyalahgunakan izin dan sebagian tidak memiliki izin. Jadi kata saya memang benar ada Alexis di Kota Serang,” ungkapnya dengan kesal.

Padahal sudah jelas, masih dikatakan Enting, Walikota Serang, Tb Haerul Jaman telah berjanji akan menutup semua tempat hiburan yang mengandung kemaksiatan di Kota Serang. Baik di pinggir jalan, Hotel maupun Restoran.

“Sampai akhirnya pun turun surat pada pertanggal 30 maret dari Walikota Serang ke Dinas Perizinan sampai ke Satpol PP untuk menertibkan 24 tempat hiburan yang tidak memiliki izin dengan tenggat waktu 3 bulan. Tapi apa sampai sekarang tidak ada yang berkurang,” jelasnya.

Padahal, kata Enting, keuntungan tempat hiburan di Kota Serang tidak ada sama sekali. “Karena mereka memakai izin resto ataupun Hotel yang hanya menyetorkan PAD sebasar Rp 1 juta rupiah. Sedangkan keuntungan mereka dalam sehari mencapai Rp 400 juta. Terus tunggu apa lagi Walikota untuk menertibkan 24 tempat hiburan yang merusak moral masyarakat di Kota Serang,” tukasnya. (1-2)

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Comments are closed.