Gelar Melasti, Umat Hindu Banten Ajak Jaga Keutuhan NKRI

banner 160x600
banner 468x60

BBC, Tangerang – Umat Hindu di seluruh Indonesia menyambut dan merayakan Tahun Baru Saka sebagai bentuk perayaannya dengan menyepikan diri dari berbagai aktivitas duniawi, kemudian lebih dikenal sebagai Hari Raya Nyepi.

“Pengheningan diri selama 24 jam mematikan segala penuh, aktivitas duniawi merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas sradha (keimanan) guna menemukan jati diri, kesejatian tujuan hidup dan hubungan dengan Sang Diri,” kata ketua Padisada Hindu Darma Indonesia provinsi Banten, Ida Bagus Alit Wiratmaja di lokasi perayaan Melasti di Pantai Tanjung Pasir, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Minggu 11/3/2018.

Pengheningan diri ini, lanjut Alit akan terlaksana sempurna melalui empat brata penyepian yang ditradisikan sebagai amati geni (tidak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan api penerangan, amati lelunganan (tidak bepergian ke luar ramah), amati pakaryan (tidak bekera) dan amati lelangunan (tidak melakukan ektivitas yang berkaitan dengan hiburan bersenang-senang).

“Melalui empat brata penyepian yang diamanatkan ini, Nyepi menjadi momentum pengendalian diri agar tidak larut dalam emosi berlebihan di dalam situasi dan kondisi kehidupan berngara dan berbangsa demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Pembimas Hindu provinsi Banten Sunarto menyampaian pada tahun 2018 ini Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1940 jatuh pada Saniscara Umanis Watugunung, Sabtu 17 Maret 2018. Sejak Tahun Baru Caka 1 (tahun 78 Masehi) hingga kini, setiap tahun umat Hindu senantiasa diingatkan agar dalam melaksanakan tugas hidup sehar-hari selalu teguh sikap penuh toleransi dan rukun dengan umat agama lain.

“Dengan demikian tepatlah tema yang diusung pada tahun ini, “Melalui Catur Brata Penyepian Tingkatkan Soliditas Sebagai Perekat Keeragaman dalam Menjaga Keutuhan NKRI”,” ujar Sunarto.

Sunarto menyampaikan setiap tahun umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya dengan rangkaian Upacara Nyepi utama meliputi Melasti, Tawur Agung, Sipeng Nyepi, Ngembak Geni dan Dharma Santhi.

“Kelima kegiatan ini dilaksanakan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di masing-masing daerah, termasuk pula kegiatan-kegiatan pendukung lainnya, seperti Bakti Sosial, Pengobatan Gratis, pembagian sembako dan lainnya yang bertujuan untuk memberikan pelayanan sosial kepada masyarakat kita serta meningkatkan harmonisasi kehidupan antar umat beragama,” imbuhnya.

Ketua paniti Hari Raya Nyepi 1 Saka 1940 I Wayan Sukma Harijaya menambahkan dalam kegiatan Melasti ini diikuti seluruh Pura yang ada di provinsi Banten yaitu Pura Eka wira Anantha Serang, Pura Kertajaya, Para Mertasan Rempoa, Pura Panhyangan Jagatguru BSD, dan Pura Dharma Sidhi Ciledug melakukan penyucian segala sarana dan peralatan yang dipergunakan dalam pemembahyangan serta melaksanakan pengambilan Tirta Amerta (air suci ke tengah laut. Sehingga kegiatan Melasti dilaksanakan di pantai atau laut. Karena bagi umat Hindu, laut adalah lambang pemberih segala kekotoran di mana Hyang Widhi dalam wujud Varuna (Baruna) siap membenihkan dan menyucikan dengan air suci tirta.

“Bersamaan dengan itu pula dilaksanakan Malang Pekelem atau upacara sedekah Laut Memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa memberikan keselamatan dan kenakunan, keserasian antar alam semesta beserta isinya,” tandasnya.

Related Search

    Email Autoresponder indonesia
    author
    No Response

    Comments are closed.