Diduga Persoalan Asmara, Siswa SMK PGRI Kota Serang Dikeroyok Oknum Polisi

banner 160x600
banner 468x60

Keluarga korban pemukulan oknum anggota polisi, saat berbincang dengan awak media, Kamis 19/10.2017.

BBC, Serang –  Beberapa oknum anggota Polisi Polda Banten menganiaya seorang siswa SMK 1 PGRI. Penganiayaan dilakukan terhadap salah seorang Siswa bernama Amin Sobri (17) di depan Sekolah SMK 1 PPGRI Kota Serang, Kamis 19/10/2017.

Kepada awak media, Amin Sobri mengaku mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh beberapa oknum polisi. Ironisnya pemukulan dilakukan beberapa oknum polisi tersebut terjadi di depan sekolah ketika dirinya hendak pulang sekolah. Peristiwa berawal ketika dirinya menegur salah satu oknum Polisi yang dianggap telah mengganggu teman perempuanya.

“Pemukulan itu terjadi berawal dari chating melalui telepon seluler,” kata Amin ketika ditemui usai melakukan pemeriksaan kondisi kesehatanya akibat pemukulan yang dilakukan oleh oknum Polisi tersebut di RSUD Sudrajat Kota Serang,” katanya.

Amin mengaku tidak terima atas apa yang dilakukan oleh seorang oknum polisi terhadap pacarnya yang telah mengganggu melalui chating. Dirinya mengaku sudah berusaha mengingatkan seorang oknum polisi tersebut. Namun tidak dihiraukan malah terkesan bertele-tele dan memancing emosi. Hiingga oknum polisi itu melontarkan perkataan yang tidak pantas didiengar.

“Masalah pribadi masalah chating, saya punya cewek dia ngejar-ngejar cewek itu. Saya coba ngomong untuk melarang tapi dia malah bertele-tele, mancing-mancing emosi saya sampai keluar perkataan yang kurang baik,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Amin menjelaskan bahwa dirinya sudah sempat berdamai dengan oknum polisi tersebut pada hari Rabu 17/10/2017 Malam.

“Saya bingung pas tadi pagi oknum tersebut datang bersama temanya ke sekolah lantaran merasa tidak terima karena sudah diperlakukan kasar oleh anak sekolah,” tuturnya.

Tidak sampai disitu saja, Amin mengaku dipaksa diajak masuk ke dalam mobil sambil dipukuli dan sempat terjatuh di bawah pintu mobil hingga diinjak dan di tendang-tendang.

“Pada saat yang bersamaan datang satu persatu tanpa alasan apapun ikut memukuli saya,” imbuhnya.

“Kejadian tersebut sempat dilerai oleh beberapa penjaga sekolah (Satpam) dan lamankan, banyak guru, banyak warga juga yang melihat kejadian itu karena kejadiannya di depan sekolah dekat gerbang. Saat Satpam membubarkan, mereka ngejar masuk ke dalam sekolah, tapi saya sudah langsung diamankan,” ucap Amin.

Orang tua korban Madroji (40) warga Kampung Peundey, Desa Lebak, Kecamatan Ciomas, ketika ditemui merasa kaget dan sedih melihat anaknya diperlakukan seperti itu.

“Saya hanya memininta keadilan saja, anak saya dianiaya begini. Saya akan melapor dan punya bukti visum. Saya sedih banget anak saya dianiaya begitu, sebagai orang tuanya nggak suka mukul, kenapa orang lain bisa menganiaya begitu sampai diinjak-injak sampe di borgol.  Saya mau lapor ke Polda, karena tadi sudah dari Polda suruh divisum dulu, terus bawa ke Polda lagi,” keluhya.

Hingga berita ini dibuat, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian daerah Banten. (1-2)

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Comments are closed.