Bertemu “Marhaen” Dian Wahyudi

331 views
banner 160x600
banner 468x60

 

BBC, Lebak – Sore itu saya bertemu dengan salah seorang pengusaha beras di Rangkasbitung, boleh dibilang cukup berhasil, sosoknya di kenal baik oleh para pejabat pemkab Lebak mah. Saat asyik, Obrolan kami terpotong karena ada konsumen yang ingin membeli beras.

Kami mengikuti beliau menuju pabrik penggilingan beras, sudah menunggu truk besar. Tadinya kami menduga akan ada transaksi berkarung-karung beras “beas anyar”, ternyata mereka mau membeli beras “hajat” milik warga yang dititipkan untuk dijual. Setelah ditimbang, jumlahnya ternyata fantastis, puluhan juta. Beras dibawa ke wilayah Serang. Saya tidak bertanya banyak akan diapakan setelahnya.

Bisnis menitipkan beras saja cukup menggiurkan, walau untuk transaksi ini hanya mendapatkan fee dari penjualan. Dia nya sih ketawa-ketawa saja saat ditanya berapa keuntungannya. Lumayanlah tegas nya.

Sementara beliau biasa menjual beras hasil gilingan milik pribadi. Paling sedikit 2 ton perhari. Setiap hari, jika padi tersedia, ketersediaan padi kadang karena keterbatasan stok di Lebak bisa jadi didatangkan dari luar daerah seperti serang bahkan kadang sampai dari salahsatu daerah di jawa barat, syukurnya beras selalu terserap pasar, dengan berbagai merek dagang.

Karena proses muatan beras agak lama, saya bersama seorang kawan yang ikut serta, mohon izin berkeliling nengok daerah persawahan yang tidak begitu jauh dari situ.

Dihamparan sawah, yang sedang kering kerontang, tanah nya pecah-pecah, tandus, panas menyengat. Namun, beberapa pemuda dan anak- anak tampak asyik memainkan layangan peteng, bunyinya khas. Saya ikut larut mendengarkan suara dengungnya yang menggetarkan, apalagi jika angin cukup kencang . jika di ingat, sudah cukup lama saya tidak pernah bermain layangan peteng seperti itu para pemuda mainkan itu, ngarasa lamun umur geus kolot, terasa jika usia sudah tua tidak muda lagi.

Disekitaran persawahan yang tandus itu, terdapat tiga ekor kerbau, beberapa ekor kambing, serta segerombol bebek. Saya mencoba berfoto dengan kerbau, setiap di dekati, dia nya (haha) selalu menjauh. Selalu begitu, berbeda saat seorang ibu pemilik kerbau itu mendekat, lindeuk, menurut, dia usap-usap punggungnya, sambil diajak ngobrol. Saya mencoba mendekat lagi, kerbaunya menjauh lagi. Hhmmm… tiba-tiba pengen banget saya bersenandung lagu Deen Assalam….

Sambil terus berusaha ber swafoto, saya juga ngobrol dengan pemilik kerbau, bahkan ternyata kambing dan bebek itu juga miliknya. Karena sudah jelang maghrib, dituntunnya kerbau menuju kandang, tak jauh dari sawah, dinding rumahnya masih bilik, suaminya seorang petani, menyambut kami dekat kandang.

“Kerbau ini sebenarnya kerbau kelompok tani, program dari dinas, sudah kami urus cukup lama, sekitar 8 tahun, tapi ya begitu kecil saja”, kata pak petani. “Makannya kurang kali pak,” tanya saya. “Dari awal memang kecil, sepertinya kerbau apkir,” kata si bapak lagi. “Kalau Kerbau yang ini, yang gemuk paroan dengan tetangga kampung. Kambing juga paroan. Agak susah cari rumput kalo musim kemarau gini,” ujarnya. “Air juga sulit, untung aja ada sumber air milik tetangga yang menggunakan tenaga surya, jadi cukup membantu,” tambah pak petani. Saya lihat sungai yang dekat dari situ memang kering. “Anaknya punya berapa pak,” tanya saya. “Punya 3 orang, sudah berkeluarga, ini samping rumah saya,” ujar si bapak, “tapi ya pa, sama aja susah juga,” lanjut pak petani. “8 tahun di urusan (diurus) oleh bapak, kenapa gak dijual aja pak,” tanya saya. “ ja leutik iyeu (kecil kan ukurannya), geus poho meureun nu merena geh (sudah lupa barangkali mereka dari Dinasnya),” tanya saya. “sieun (takut),” ujar si bapak.

Deg, betapa santun dan simpelnya cara berpikir pak petani ini, dia tidak mau melakukan diluar kemampuan dia. Amanah yang diberikan hanya mengurusi saja. Semoga ada solusi kepada kelompok tani tersebut, agar petani dan teman petani senasib beliau diperhatikan, karena tentunya biaya untuk mengurus kerbau bertahun-tahun, memerlukan tenaga dan ketelatenan, jika tidak mendapatkan keuntungan, malang benar.

Berbeda dengan saya (hehe), saya bertemu dengan petani tersebut hanya numpang selfie (swafoto) dengan kerbau mereka, saya baru sedikit tahu, mereka memiliki masalah dalam pengelolaan kerbau hasil kerjasama dengan dinas, padahal kerap sekali dinas setempat melakukan Festiva Kerbau. Padahal jika para peternak kerbau yang telah sukses, melakukan pertemuan rutin dengan para peternak kerbau lainnya, terutama yang berskala kecil, mereka dapat bertukar kesuksesan. Sukses harus ditularkan, tak kan rugi membagi kesuksesan. Peran kelompok tani sangat berperan agar sukses bersama.

Dinas juga semoga memiliki formula jitu, selalu meng-evaluasi kearah lebih baik. agar para petani yang menjalankan budidaya ternak kerbau hasil kerjasama tersebut sukses, minimal tidak merugikan para petani.

Saya tercenung, tetiba ingat sosok Soekarno, sepertinya dialog-dialog yang sering Soekarno lakukan dengan kalangan “bawah” dulu, semacam sosok petani diataslah yang memantik inspirasi bagi beliau.

Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Bung Karno mengatakan, ia menemukan istilah marhaen pada usia 20 tahun.

Diceritakan, Soekarno sudah lama merenungi, atau lebih tepatnya berusaha memahami, tentang klas-klas dalam masyarakat Indonesia. Saat itu, Ia sedang bergumul dengan persoalan-persoalan teoritik. Akhirnya, pada suatu pagi, Bung Karno memilih mendayung sepeda tanpa tujuan. Mungkin sekedar “jalan-jalan”.

Saat itu, Bung Karno tinggal di kota Bandung. Bung Karno menuju Bandung selatan, yang dikenal sebagai kawasan pertanian. Tiap-tiap petani mengerjakan sawahnya sendiri. Luasnya tidak melebihi dari sepertiga hektar.

Hal ini menarik perhatian Bung Karno. Ia mendatangi salah seorang dari petani itu. Terjadilah dialog dengan menggunakan bahasa Sunda. Pendek kata, dari dialog itu Soekarno menyimpulkan : petani itu mengerjakan sawah sendiri (warisan orang tua), menggunakan perkakas kerja sendiri, hasilnya hanya untuk menghidupi diri sendiri atau keluarga sendiri (tidak ada kelebihan untuk dijual), tidak mempekerjakan tenaga orang lain, dan punya rumah berbentuk gubuk yang dipunyai sendiri.

Nama petani itu adalah Marhaen. Di situlah Bung Karno menemukan ilham menggunakan nama Marhaen untuk menamai semua orang Indonesia yang senasib dengan petani bernama Marhaen itu. Tetapi istilah itu tidak sempit merujuk ke petani saja. Masih di buku yang sama, Bung Karno juga menyebut “tukang gerobak” sebagai marhaen. Sebab, si tukang gerobak punya alat produksi, tetapi tidak menyewa pembantu (tenaga kerja) dan tidak punya majikan.

Ada baiknya, mengikuti jejak beliau bukan hanya sekedar teori dan retorika namun langsung turun dan memahami permasalahan para petani, semoga usaha sekecil apapun apabila diniatkan untuk merubah dan berubah, jika dilakukan bersama, simultan, terprogram, berjalan sesuai harapan dan terevaluasi dengan baik, semoga petani dan peternak dapat lebih berdaya, bukan hanya sekedar program di atas kertas dan menguntungkan segelintir pihak. Aamiin. (AK/1-1)

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Comments are closed.