Ahli Waris Tanah KEK Protes Soal ke Pemkab

160 views
banner 160x600
banner 468x60

BBC, Pandeglang – Ratusan warga yang mengaku pemilik lahan dan ahli Waris, mempersoalkan lahan tanah yang akan dijadikan sebagai pengembang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang berada di daerah Tanjung Lesung. Dimana saat ini lahan tersebut sudah diklaim sebagai milik PT Banten West Java (BWJ)

Menurut ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Bina Nusantara (Binus), Uneh Junaedi yang sekaligus selaku perwakilan pemilik lahan menyampaikan bahwa ratusan warga merasa tidak pernah menjual tanah mereka kepada pihak manapun.

“Kenapa mereka mempersoalkan itu, karena mereka tidak merasa menjual tanah mereka kepada pihak manapun,” kata Junaedi saat menggelar audiensi dengan Pemkab dan perwakilan BWJ di ruangan Sekertaris Daerah (Setda) Kabupaten Pandeglang, Rabu 6/12/2017.

“Ahli waris dari pemilik tidak pernah menjual sejengkalpun kepada siapapun. Kami punya keabsahan, bentuk tanahnya semua berupa girik, karena lahan itu ekstranslog. Dari situ, jatah mereka kembali dibagi,” jelasnya

Junaedi menuturkan persoalan sengketa tanah memang telah berlangsung sejak tahun 1994. Dimana saat itu bertepatan dengan datangnya BWJ. Namun pada saat itu, pihak BWJ hanya sebatas menganti rugi lahan garapan yang dihargai Rp200 untuk penggarap dan Rp100 bagi pemda, bukan membeli seluruh tanah milik warga.

“BWJ pada saat itu hanya ganti rugi garapan yang diharga Rp200 untuk penggarap dan Rp100 buat pemda. Maka jika BWJ mengaku sudah dibebaskan, itu merupakan kebohongan publik,” terangnya.

Junaedi yang juga mantan Sekretaris Panitia Khusus Pembentukan Kawasan Wisata Ekklusif Tanjung Lesung menjelaskan, bahwa lahan yang dipersoalkan oleh warga tersebut adalah lahan yang terletak di blok 22, dan diakui saat ini belum dilakukan pembangunan sama sekali. Namun ia memprediksi, sengketa lahan yang dipersoalkan oleh warga lebih dari yang sudah terdata saat ini.

“Memang tanah itu masih dalam keadaan kosong. Namun masih banyak yang tersisa yang belum kami rekrut karena terkait langkah kami untuk menemui ahli waris yang letaknya cukup jauh tersebar di Jawa Barat,” ucapnya.

Pihaknya pun membantah apabila persoalan ini muncul untuk memanfaatkan situasi lahan KEK yang telah ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Proyek Strategis Nasional (KSPN). Karena pihaknya sudah melayangkan somasi ke BWJ sejak tahun 2015 lalu.

Salah seorang ahli waris, Doni Romdhoni menambahkan, langkah warga ini bukan untuk memberatkan masuknya investasi ke Pandeglang. Namun ia merasa heran dengan klaim dari BWJ.

“Kami punya bukti surat-surat tanahnya. Nah lahan yang dimiliki oleh orang tua kami itu, sudah dikuasai oleh BWJ. Kami merasa aneh BWJ ini membeli lahan ke siapa karena kami tidak pernah menjual ke siapapun,” kata Doni

Sementara itu, Perwakilan BWJ, Maheno membeberkan, pihaknya bersikukuh lahan yang dikuasai saat ini adalah lahan sah BWJ. Apalagi pihaknya sudah mengelola lahan KEK Tanjung Lesung sejak tahun 90an silam. Sehingga pihaknha merasa heran dengan klaim warga tersebut.

“Terus terang saja, dari tahun 1994 kami sudah di sana. Sampai detik ini tidak pernah ada yang mengklaim. Sehingga kami garap dan urug tidak ada yang protes. Baru kali ini,” katanya.

Kendati demikian, pihakna mempersilakan pemilik dan ahli waris untuk membuktikan keabsahan lahan yang diakui tersebut. Apalagi sebetulnya, BWJ telah menunggu kelanjutan dari somasi yang dilayangkan 2 tahun lalu.

“Sebetulnya kami siap untuk memfasilitasi. Karena sejak tahun 2015 kami sudah menunggu untuk meminta penjelasan yang diklaim warga. Kalau memang warga punya data, silakan buktikan. Kami siap menyelesaikan secara baik-baik,” jelas Maheno.

Sayangnya, audiensi itu berakhir deadlock, karena tidak memutuskan kebijakan apapun. Pasalnya, banyak pertanyaan warga yang tidak bisa dijawab oleh Pemkab lantaran tidak hadirnya Kepala Administrator. (1-2)

Related Search

    Email Autoresponder indonesia
    author
    No Response

    Comments are closed.