Laksanakan Tawur Agung, 6000 Umat Hindu Banten Padati Pure Wira Eka Ananta

banner 160x600
banner 468x60

BBC, Serang – Sebanyak 6000 umat Hindu di provinsi Banten diperkirakan mengikuti pelaksanaan Tawur Kesanga atau Tawur Agung yang dilaksanakan di Pure Wira Eka Ananta Taman Kopassus Kota Serang.

Pelaksanaan Taur Agung merupakan rangkain kegiatan biasa dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Dalam upacara Tawur Agung dilakukan upacara Mecaru, upacara Burhakala (alam semesta) melalui prosesi pengrupukan meuu-buu, yang disimbulkan dengan  mengarak ogoh-ogoh keliling desa dengan diiringi tetabuhan baleganjur.

“Ini dari kegiatan ini adalah untuk memohon kepada penguasa alam semesta, Tuhan Yang Maha Esa agar tercipta keselarasan, keharmonisan hidup antara manusia dengan bhutakala, penghuni alam lain yang lebih rendah derajatnya,” ungkap ketua panitia panitia Hari Raya Nyeli 1940 tingkat provinsi Banten, I Wayan Sukma Harijaya, Jumat 16/3/2018.

Menurutnya, parade ogoh-ogoh merupakan sebagai ungkapan rasa bahagia dari anak-anak muda akan hadirnya tahun Baru Saka 1940. Parade yang juga seni budaya lokal (local genius) yang ada di Provinsi Banten setiap tahun selalu dilaksanakan setelah upacara Tawur  Agung.

“Pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, budayawan, umat beragama dan para antara pemuda-pemudi kita,” katanya.

Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) provinsi Banten, Ida Bagus Alit Wiratmaja mengatakan selain ogoh-ogoh adapula gunungan  persembahan dari paguyuban Majapahid yang memang ada di provinsi Banten ikut ditampilkan.  Gunungan  ini merupakan simbolis dari segala hasil alam yang dipakai sarana Yadnya segara (sedekah laut) bumi).

“Gunungan sebagai ungkapan Tuhan Yang Maha Yadnya artinya serentak untuk dilakukan secara grebeg pembersihan laut dan bumi secara harmonis yang selanjutnya gunungan di pradaksina,” ujar Alit.

Jika di Jawa pradaksina, lanjut Alit dilakukan dengan mengelilingi keraton, desa sebagai wujud wara nugraha, Hyang Widi sesaji dalam bentuk sato di larung dilengkapi Jajan Pasar untuk Ibu laut. Sedangkan untuk Ibu Bumi ditanam di perempatan jalan untuk nyepuh Bumi.

“Setelah itu barulah Gunungan di perebutkan oleh rakyat sebagai wujud wara graha Tuhan dalam bentuk kesejahteraan dan keharmonisan,” lanjutnya. (1-1)

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Comments are closed.